Nama: Adhila Rachmasari
Npm: 10214218
Kelas: 3EA31
Pokok Pembahasan: Definisi Etika dan Bisnis sebagai sebuah Profesi
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Etika bisnis merupakan etika terapan. Etika
bisnis merupakan aplikasi
pemahaman kita tentang apa yang baik dan benar untuk beragam institusi,
teknologi, transaksi, aktivitas dan usaha yang kita sebut bisnis. Pembahasan
tentang etika bisnis harus dimulai dengan menyediakan kerangka prinsip-prinsip
dasar pemahaman tentang apa yang dimaksud dengan istilah baik dan benar, hanya
dengan cara itu selanjutnya seseorang dapat membahas implikasi-implikasi
terhadap dunia bisnis. Etika dan Bisnis mendeskripsikan etika bisnis secara
umum dan menjelaskan orientasi umum terhadap bisnis dan mendeskripsikan
beberapa pendekatan khusus terhadap etika bisnis yang secara bersama-sama
menyediakan dasar untuk menganalisis masalah-masalah etis dalam bisnis. Perbincangan tentang "etika bisnis" di
sebagian besar paradigma pemikiran pebisnis terasa kontradiksi interminis
(bertentangan dalam dirinya sendiri), mana mungkin ada bisnis yang bersih, yang
dimana bukankah setiap orang yang berani memasuki wilayah bisnis berarti ia
harus berani (paling tidak) "bertangan kotor". Apalagi
ada satu pandangan bahwa masalah etika bisnis seringkali muncul berkaitan
dengan hidup matinya bisnis tertentu yang apabila "beretika" maka
bisnisnya terancam pailit. Disebagian masyarakat yang nir normatif dan
hedonistik materialistk, pandangan ini tampkanya bukan merupakan rahasia lagi
karena dalam banyak hal ada konotasi yang melekat bahwa dunia bisnis dengan
berbagai lingkupnya dipenuhi dengan praktik-praktik yang tidak sejalan dengan
etika itu sendiri. Namun kalau
bisnis punya etika, maka pertanyaan yang segera timbul adalah manakah
norma-norma atau prinsip etika yang berlaku dalam kegiatan bisnis. Apakah
prinsip-prinsip itu berlaku universal, terutama mengingat kenyataan mengenai
bisnis global yang tidak mengenal batas-batas negara dewasa ini? Demikian pula,
bagaimana caranya agar prinsip-prinsip tersebut bisa operasional dalam kegiatan
bisnis?
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Definisi Etika dan Bisnis sebagai sebuah Profesi
·
Hakekat Mata Kuliah Etika Bisnis
Menurut Drs. O.P. Simorangkir bahwa
hakikat etika bisnis adalah menganalisis atas asumsi-asumsi bisnis, baik asumsi
moral maupun pandangan dari sudut moral. Karena bisnis beroperasi dalam rangka
suatu sistem ekonomi, maka sebagian dari tugas etika bisnis hakikatnya
mengemukakan pertanyaan-pertanyaan tentang sistem ekonomi yang umum dan khusus
dan pada gilirannya menimbulkan pertanyaan-pertanyaan tentang tepat atau
tidaknya pemakaian bahasa moral untuk menilai sistem-sistem ekonomi dan
struktur bisnis.
·
Definisi Etika dan Bisnis
Kata
etika berasal dari kata ethos (bahasa Yunani) yang berarti karakter, watak kesusilaan
atau adat istiadat (kebiasaan). Sebagai suatu subyek, etika akan berkaitan
dengan konsep yang dimilki oleh individu ataupun kelompok untuk menilai apakah
tindakan-tindakan yang telah dikerjakannya itu salah atau benar, buruk atau
baik. Bisnis adalah suatu organisasi yang menjual barang atau jasa
kepada konsumen atau
bisnis lainnya, untuk mendapatkan laba. Secara historis kata bisnis
dari bahasa Inggris business, dari kata dasar busy yang berarti “sibuk” dalam konteks individu,
komunitas, ataupun masyarakat. Dalam artian, sibuk mengerjakan aktivitas dan
pekerjaan yang mendatangkan keuntungan. Pengertian Etika Bisnis secara
sederhana adalah : cara-cara untuk melakukan kegiatan bisnis, yang mencakup
seluruh aspek yang berkaitan dengan individu, perusahaan, industri
dan juga masyarakat. Semuanya ini mencakup bagaimana kita menjalankan bisnis
secara adil, sesuai dengan hukum yang berlaku, dan tidak tergantung pada
kedudukan individu ataupun perusahaan di masyarakat itu sendiri. Etika bisnis
dalam perusahaan memiliki peran yang sangat penting, yaitu untuk membentuk
suatu perusahaan yang kokoh dan memiliki daya saing yang tinggi serta mempunyai
kemampuan menciptakan nilai (value-creation) yang tinggi, diperlukan suatu
landasan yang kokoh. Biasanya dimulai dari perencanaan strategis , organisasi
yang baik, sistem prosedur yang transparan didukung oleh budaya perusahaan yang
handal serta etika perusahaan yang dilaksanakan secara konsisten dan konsekuen.
Haruslah diyakini bahwa pada dasarnya praktek etika bisnis akan selalu
menguntungkan perusahaan baik untuk jangka menengah maupun jangka panjang,
karena :
1. Mampu mengurangi biaya akibat
dicegahnya kemungkinan terjadinya friksi, baik intern perusahaan maupun dengan
eksternal.
2. Mampu meningkatkan motivasi pekerja.
3. Melindungi prinsip kebebasan
berniaga
4. Mampu meningkatkan keunggulan
bersaing.
Tidak
bisa dipungkiri, tindakan yang tidak etis yang dilakukan oleh perusahaan akan
memancing tindakan balasan dari konsumen dan masyarakat dan akan sangat kontra
produktif, misalnya melalui gerakan pemboikotan, larangan beredar, larangan
beroperasi dan lain sebagainya. Hal ini akan dapat menurunkan nilai penjualan
maupun nilai perusahaan. Sedangkan perusahaan yang menjunjung tinggi
nilai-nilai etika bisnis, pada umumnya termasuk perusahaan yang memiliki
peringkat kepuasan bekerja yang tinggi pula, terutama apabila perusahaan tidak
mentolerir tindakan yang tidak etis, misalnya diskriminasi dalam sistem
remunerasi atau jenjang karier. Perlu dipahami, karyawan yang berkualitas
adalah aset yang paling berharga bagi perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan
harus semaksimal mungkin harus mempertahankan karyawannya.
Untuk memudahkan penerapan etika perusahaan dalam kegiatan sehari-hari maka nilai-nilai yang terkandung dalam etika bisnis harus dituangkan kedalam manajemen korporasi yakni dengan cara :
Untuk memudahkan penerapan etika perusahaan dalam kegiatan sehari-hari maka nilai-nilai yang terkandung dalam etika bisnis harus dituangkan kedalam manajemen korporasi yakni dengan cara :
1. Menuangkan etika bisnis dalam suatu
kode etik (code of conduct)
2. Memperkuat sistem pengawasan
3. Menyelenggarakan pelatihan
(training) untuk karyawan secara terus menerus.
·
Etikat Moral, Hukum dan Agama
Perbedaan Etika dan Etiket :
Seringkali
dua istilah tersebut disamakan artinya, padahal perbedaan antara keduanya
sangat mendasar. Dari asal katanya saja berbeda, yakni Ethics dan Ethiquetle.
Etika berarti moral sedangkan Eiket berarti sopan santun. Namun meskipun
berbeda, ada persamaan antara keduanya, yaitu :
1. Keduanya menyangkut perilaku manusia
2. Etika dan eiket mengatur perilkau
manusia secara normative, artinya memberi norma bagi perilku manusia dan dengan
demikian menyatakan apa yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan.
Perbedaannya yang penting antara
lain yaitu :
1. Etiket menyangkut cara suatu
perbuatan harus dilakukan manusia. Diantara beberapa cara yang mungkin, etiket
menunjukkan cara yang tepat, artinya cara yang diharapkan serta ditentukan
dalam suatu kalangan tertentu.
2. Etika tidak terbatas pada cara
dilakukannya suatu perbuatan. Etika menyangkut pilihan yaitu apakah perbuatan
boleh dilakukan atau tidak.
3. Etiket hanya berlaku dalam
pergaulan. Bila tidak ada saksi mata, maka maka etiket tidak berlaku.
4. Etika selalu berlaku meskipun tidak
ada saksi mata, tidak tergantung pada ada dan tidaknya seseorang.
5. Etiket bersifat relatif artinya yang
dianggap tidak sopan dala suatu kebudayaan, isa saja diangap sopan dalam
kebudayaan lain.
6. Etika jauh lebih bersifat absolut.
Prinsip-prinsipnya tidak dapat ditawar lagi.
7. Etiket hanya memadang mausiadari
segi lahiriah saja. Etika menyangkut manusia dari segi dalam. Orang yang
bersikap etis adalah orang yang sungguh-sungguh baik.
Perbedaan Moral dan Hukum :
Sebenarnya
ataa keduanya terdapat hubungan yang cukup erat. Karena anatara satu dengan
yang lain saling mempegaruhi dan saling membutuhkan. Kualitas hukum ditentukan
oleh moralnya. Karena itu hukum harus dinilai/diukur dengan norma moral.
Undang-undang moral tidak dapat diganti apabila dalam suatu masyarakat
kesadaran moralnya mencapai tahap cukup matang. Secaliknya moral pun
membutuhkan hukum, moral akan mengambang saja apabil atidak dikukuhkan,
diungkapkan dan dilembagakan dalam masyarakat. Dengan demikian hukum dapat
meningkatkan dampak social moralitas. Walaupun begitu tetap saja antara Moral
dan Hukum harus dibedakan. Perbedaan tersebut antara lain :
1. Hukum bersifat obyektif karena hukum
dituliskan dan disusun dalam kitab undang-undang. Maka hkum lebih memiliki
kepastian yang lebih besar.
2. Norma bersifat subyektif dan
akibatnya seringkali diganggu oleh pertanyaan atau diskusi yang menginginkan
kejelasan tentang etis dan tidaknya.
3. Hukum hanya membatasi ruang
lingkupnya pada tingkah laku lahiriah manusia saja.
4. Sedangkan moralitas menyangkut
perilaku batin seseorang.
5. Sanksi hukum bisanya dapat
dipakasakan.
6. Sedangkan sanksi moral satu-satunya
adalah pada kenyataan bahwa hati nuraninya akan merasa tidak tenang.
7. Sanksi hukum pada dasarnya
didasarkan pada kehendak masyarakat.
8. Sedangkan moralitas tidak akan dapat
diubah oleh masyarakat
Perbedaan Etika dan Agama :
Etika
mendukung keberadaan Agama, dimana etika sanggup membantu manusia dalam
menggunakan akal pikiran untuk memecahkan masalah. Perbedaan antara etika dan
ajaran moral agama yakni etika mendasarkan diri pada argumentasi rasional.
Sedangkan Agama menuntut seseorang untuk mendasarkan diri pada wahtu Tuhan dan
ajaran agama.
Etika dan Moral
Etika
lebih condong kearah ilmu tentang baik atau buruk. Selain itu etika lebih
sering dikenal sebagai kode etik. Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan
asas dan atau nilai yang berkenaan dengan baik buruk. Dua kaidah dasar moral
adalah :
1. Kaidah Sikap Baik. Pada dasarnya
kita mesti bersikap baik terhadap apa saja. Bagaimana sikap baik itu harus
dinyatakann dalam bentuk yang kongkret, tergantung dari apa yang baik dalam
situasi kongkret itu.
2. Kaidah Keadilan. Prinsip keadilan
adalah kesamaan yang masih tetap mempertimbangkan kebutuhan orang lain.
Kesamaan beban yang terpakai harus dipikulkan harus sama, yang tentu saja
disesuaikan dengan kadar angoota masing-masing.
·
Klasifikasi Etika
Menurut
buku yang berjudul “Hukum dan Etika Bisnis” karangan Dr. H. Budi Untung, S.H.,
M.M, tahun 2012 etika dapat diklasifikasikan menjadi :
1. Etika Deskriptif
Etika
deskriptif yaitu etika di mana objek yang dinilai adalah sikap dan perilaku
manusia dalam mengejar tujuan hidupnya sebagaimana adanya. Nilai dan pola
perilaku manusia sebagaimana adanya ini tercemin pada situasi dan kondisi yang
telah membudaya di masyarakat secara turun-temurun.
- Etika
Normatif
Etika
normatif yaitu sikap dan perilaku manusia atau massyarakat sesuai dengan norma
dan moralitas yang ideal. Etika ini secara umum dinilai memenuhi tuntutan dan
perkembangan dinamika serta kondisi masyarakat. Adanya tuntutan yang menjadi
avuan bagi masyarakat umum atau semua pihak dalam menjalankan kehidupannya.
- Etika
Deontologi
Etika
deontologi yaitu etika yang dilaksanakan dengan dorongan oleh kewajiban untuk
berbuat baik terhadap orang atau pihak lain dari pelaku kehidupan. Bukan hanya
dilihat dari akibat dan tujuan yang ditimbulakan oleh sesuatu kegiatan atau
aktivitas, tetapi dari sesuatu aktivitas yang dilaksanakan karena ingin berbuat
kebaikan terhadap masyarakat atau pihak lain.
- Etika
Teleologi
Etika
Teleologi adalah etika yang diukur dari apa tujuan yang dicapai oleh para
pelaku kegiatan. Aktivitas akan dinilai baik jika bertujuan baik. Artinya
sesuatu yang dicapai adalah sesuatu yang baik dan mempunyai akibat yang baik.
Baik ditinjau dari kepentingan pihak yang terkait, maupun dilihat dari kepentingan
semua pihak. Dalam etika ini dikelompollan menjadi dua macam yaitu :
5. Egoisme
Egoisme yaitu etika yang baik menurut pelaku saja, sedangkan
bagi yang lain mungkin tidak baik.
6.
Utilitarianisme
Utilitarianisme
adalah etika yang baik bagi semua pihak, artinya semua pihak baik yang terkait
langsung maupun tidak langsung akan menerima pengaruh yang baik.
7. Etika Relatifisme
Etika
relatifisme adalah etika yang dipergunakan di mana mengandung perbedaan
kepentingan antara kelompok pasrial dan kelompok universal atau global. Etika
ini hanya berlaku bagi kelompok passrial, misalnya etika yang sesuai dengan
adat istiadat lokal, regional dan konvensi, sifat dan lain-lain. Dengan
demikian tidak berlaku bagi semua pihak atau masyarakat yang bersifat global.
·
Konsepsi Etika
Konsep
etika bisnis tercermin pada corporate culture (budaya perusahaan). Menurut
Kotler (1997) budaya perusahaan merupakan karakter suatu perusahaan yang
mencakup pengalaman, cerita, kepercayaan dan norma bersama yang dianut oleh
jajaran perusahaan. Hal ini dapat dilihat dari cara karyawannya
berpakaian, berbicara, melayani tamu dan pengaturan kantor.
Dasar
pemikiran:
Suatu
perusahaan akan memiliki hak hidup apabila perusahaan tersebut memiliki pasar,
dan dikelola oleh orang-orang yang ahli dan menyenangi pekerjaannya. Agar
perusahaan tersebut mampu melangsungkan hidupnya, ia dihadapkan pada masalah:
- Intern,misalnya
masalah perburuhan
- Ekstern,misalnya
konsumen dan persaingan
- Lingkungan,
misalnya gangguan keamanan
Pada
dasarnya ada 3 hal yang dapat membantu perusahaan mengatasi masalah di atas
yaitu:
- Perusahaan
tersebut harus dapat menemukan sesuatu yang baru.
- Mampu
menemukan yang terbaik dan berbeda
- Tidak
lebih jelek dari yang lain
Untuk
mewujudkan hal tersebut perlu memiliki nilai-nilai yang tercermin pada:
- Visi
- Misi
- Tujuan
BUDAYA ORGANISASI
Pada budaya organisasi terdapat
unsur
- Memecahkan
masalah baik internal maupun eksternal organisasi
- Budaya
tersebut dapat ditafsirkan secara mendalam
- Mempunyai
persepsi yang sama
- Pemikiran
yang sama
- Perasaan
yang sama
FUNGSI DAN MANFAAT BUDAYA PERUSAHAAN
- Fungsi
Menentukan
maksud dan tujuan organisasi dengan fungsi tersebut organisasi akan mengikat
anggotanya.
- Manfaat
- Mampu
memecahkan masalah intern
- Mampu
memecahkan masalah ekstern
- Mampu
memiliki daya saing
- Mampu
hidup jangka panjang
KUNCI MEMBANGUN BUDAYA PERUSAHAAN
- Memahami
proses terbentuknya budaya perusahaan
- Alamiah
- Konseptual
Sumber budaya perusahaan adalah :
·
Karakteristik
pemimpin
·
Jenis
pekerjaan
·
Cara
memecahkan masalah
1. Memahami faktor-faktor yang
mempengaruhi budaya perusahaan.
- Nilai
- Ideologi
- Norma
5. Langkah-langkah membangun budaya
perusahaan:
- Menemukan
masalah dalam organisasi
- Menemukan
opini yang berkembang
- Menganalisis
opini dari:
– Lingkup
– Pemunculan
– Kompetensi
– Mutu
– Kadar
9. Menentukan strategi
- Membuat
program
- Merumuskan
pesan yang dapat mengubah
- Opini
negatif menjadi positif
- Opini
positif menjadi lebih positif
- Menciptakan
opini baru yang positif tercermin pada:
- Individul
image
- Unit
image
- Coorporate
- Budaya
perusahaan dapat dibagi menjadi:
- Pertama
: Produk
b. Kedua: Organisasi
– Perhatian pada karyawan (suasana,
keejahteraan)
– Perhatian pada tata kerja
– Menyangkut pada sistem dan
prosedur aturan-aturan kerja
– Perhatian pada sarana/peralatan
2. Contoh
Kasus
Pada tahun 1990 an, kasus yang masih mudah diingat
yaitu Enron. Bahwa Enron adalah perusahaan yang sangat bagus dan pada saat itu
perusahaan dapat menikmati booming industri energi dan saat itulah Enron sukses
memasok enegrgi ke pangsa pasar yang bergitu besar dan memiliki jaringan yang
luar biasa luas. Enron bahkan berhasil menyinergikan jalur transmisi energinya
untuk jalur teknologi informasi. Dan data yang ada dari skilus bisnisnya, Enron
memiliki profitabilitas yang cukup menggiurkan. Seiring dengan booming indutri
energi, akhirnya memosisikan dirinya sebagai energy merchants dan bahkan Enron
disebut sebagai ”spark spead” Cerita pada awalnya adalah anggota pasar yang
baik, mengikuti peraturan yang ada dipasar dengan sebagaimana mestinya. Pada
akhirnya Enron meninggalkan prestasi dan reputasinya baik tersebut, karena
melakukan penipuan dan penyesatan.. Sebagai perusahaan Amerika terbesar ke
delapan, Enron kemudian kolaps pada tahun 2001.
DAFTAR PUSTAKA
Dr. Keraf, A. Sonny. 2006. Etika Bisnis: Tuntutan dan Relevansinya. Yogyakarta:
Kanisius. Bertens, K. 2009. Pengantar Etika Bisnis. Yogyakarta: Kanisius.
Fauzan dan Ida N. 2014. Jurnal : Pengaruh Penerapan Etika Bisnis Terhadap Kepuasan Pelanggan Warung Bebek H. Slamet Di Kota Malang. Malang.
Tobing, Katrin. 2014. Jurnal : Etika Bisnis Bagi Perusahaan.
Fauzan dan Ida N. 2014. Jurnal : Pengaruh Penerapan Etika Bisnis Terhadap Kepuasan Pelanggan Warung Bebek H. Slamet Di Kota Malang. Malang.
Tobing, Katrin. 2014. Jurnal : Etika Bisnis Bagi Perusahaan.