Selasa, 20 Januari 2015

Tugas Ilmu Budaya Dasar #

Meriview film "Sang Kyai"

Film Sang Kiai adalah kisah ulama besar yang menggelorakan perjuangan masyakarat santri/pesantren untuk melawan kekuasaan kolonial. Sang Kiai sendiri, yakni K.H Hasyim Asyari, merupakan simpul yang mengikat jejaring ulama dan pondok pesantren di Tanah Jawa dan Madura. Pengaruhnya begitu luas yang diakui dengan menyebut beliau sebagai Hadratussyaikh atau Guru Akbar-nya orang-orang NU. Sayang sekali, sangat sedikit buku yang membahas sosok beliau. Cucu beliau, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur jauh lebih terkenal. Film ini sangat disarankan untuk ditonton supaya mengingatkan kembali perjuangan para ulama dan pejuang Islam dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Kembali pada Sang Kiai, intisari film ini bisa kita kerucutkan dalam satu tema inti yaitu hubungan Islam, Nasionalisme dan kewajiban memperjuangkan kemerdekan. Dalam konteks yang spesifik, film ini bertutur jikalau masyarakat Pesantren, jejaring Kiai, dan Nahdlatul Ulama merupakan poros penting yang menggelorakan perjuangan melawan penjajah. Hal ini terlihat dalam dialog antara K.H Wahid Hasyim dan Hadratussyaikh sebelum keluarnya Resolusi Jihad yang menjadi dasar etis-teologis Peristiwa 10 November 1945 itu. Peristiwa 10 November 1945 yang kemudian diabadikan sebagai hari Pahlawan. Film ini dimulai dengan sebuah kisah di lingkungan Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur. Pesantren yang dipimpin oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asyari ini dalam kondisi yang tenang dan khusyuk. Banyak santri yang berasal dari Pulau Jawa dan Madura datang untuk belajar ilmu pengetahuan Islam di pesantren ini. Hadratussyaikh pun dikenal sebagai pendiri jama’ah Nahdlatul ‘Ulama. Organisasi yang dibentuk untuk menyatukan seluruh umat Islam yang berbasis pesantren. Organisasi ini juga mempunyai tujuan untuk mengajarkan Islam serta mensejahterakan masyarakat Indonesia. Dalam permulaan film ini, Hadratussyaikh berbincang dengan Istrinya bahwa “Seseorang yang tidak berjama’ah tidak akan mendapatkan ridho Allah SWT dari jaman dahulu hingga sekarang”. Artinya kita ketika hidup di Dunia ini haruslah berjama’ah supaya kita bisa menjaga saudara muslim kita untuk mengajak kepada kebaikan, mencegah dari kemungkaran dan senantiasa saling mengingatkan untuk beriman kepada Allah. Dalam ‘kitab sejarah resmi’ yang kita baca sejak sekolah dasar peristiwa 10 November 1945 hanya menceritakan kisah patriotisme arek-arek Suroboyo. Narasi sejarah resmi ini tak melihat (atau sengaja menghilangkan) peran masyarakat Santri dan ulama yang seolah cukup diwakili dengan menyebut arek-arek Suroboyo yang secara kata terlalu umum itu. Selain itu, kontribusi Resolusi Jihad sendiri sangat jarang-kalau bukan malah tidak ada-disebut-sebut dalam tuturan narasi resmi ini. Sehingga, akibatnya adalah, tidak cukup ruang yang adil dan jujur dalam membahas peran pesantren dan ulama dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kisah Film ini dimulai dengan penolakan masyarakat Islam dengan “Sikerei”. Sikerei merupakan upacara tentara jepang untuk menyembah dewa matahari yang disimbolkan dengan menundukkan badan meyerupai gerakan ruku. Hal ini juga ditentang oleh para ulama pada saat itu termasuk Hadratussyaikh KH. Hasyim Asyari. Hingga kemudian tentara jepang datang ke Pesantren Tebuireng dengan membawa senjata api bahkan nyaris membakar para santri yang sedang belajar di tempat tersebut. Hadratussyaikh tidak mau melakukan Sikerei karena ini adalah salah satu bentuk penyembahan kepada selain Allah. Bahkan dengan tegas Hadrataussyekh menyatakan bahwa “Sikerei itu Haram!” selanjutnya, Hadratussyaikh pun dibawa oleh tentara jepang untuk dipaksa menandatangani kesepakatan untuk menyetujui dan mengikuti Sikerei. Akan tetapi Hadratussyaikh menolak dan kemudian beliau disiksa hingga tangannya berdarah. Beliau juga melihat beberapa muslim yang disiksa oleh tentara jepang karena menolak untuk melakukan Sikerei. Santri Tebuireng pun melakukan pemberontakan kepada tentara jepang menuntut pembebasan Hadratussyaikh dan muslim lainnya. Kemudian penerjemah tentara jepang menjelaskan kepada tentara jepang untuk segera mengakhiri perseteruan ini karena bisa jadi akan memunculkan pemberontakan masyarakat setempat. Namun jepang menolak dan kemudian Hadratussyaikh di pindahkan dari jombang ke mojokerto. Setelah dipindahkan ke mojokerto, Wahid Hasyim dan KH. Wahab Chasbullah melakukan perundingan melalui jalur diplomasi. Beliau berdua mendatangi tentara jepang serta para pemimpinnya, dan akhirnya jepang pun melunak setelah mendapatkan penjelasan oleh masyarakat pribumi yang bekerja kepada jepang bahwa masyarakat Indonesia sangat kuat ikatan persaudaraannya dengan dilandasi dengan agama Islam. Akhirnya jepang pun melepaskan Haddratussyaikh beserta para ulama lainnya dari dalam penjara. Jepang kemudian membujuk para pemimpin umat Islam untuk bekerjasama dengan pemerintah jepang. Kemudian Majelis Islam Ala Indonesia (MIAI), sebuah organisasi ke-Islam-an yang berhubungan dengan jaringan Islam Internasional dibubarkan dan digantikan dengan Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia). Masyumi ini dipimpin oleh beberapa ulama Islam dan salah satunya adalah KH. Hasyim Asyari. Kemudian Jepang membujuk Masyumi melalui Departemen Agama (Shumubu) untuk memaksa masyarakat Indonesia melipatgandakan hasil pertaniannya. Paksaan ini kemudian disetujui dan dilakukan dengan hati-hati dan kewaspadaan jangan sampai hasil pertanian masyarakat pribumi dibawa ke Negara penjajah. Hal lain yang bisa kita lihat dari film ini adalah apa yang disebut sebagai sejarah massa atau sejarah orang-orang kecil dalam peristiwa 10 November 1945. Sosok Bung Tomo atau Harun dan teman-temannya mewakili orang-orang kecil yang mewujudkan kewajiban fardhu a’in (kewajiban yang melekat pada setiap perseorangan) dari Resolusi Jihad itu. Tanpa keberanian dan pengorbanan jiwa mereka, Resolusi Jihad mungkin hanyalah teks bisu di hadapan kaki penjajah. Wacana Islam dan Terorisme yang sarat problematik ini mengabaikan perjuangan ulama dan pesantren demi perjuangan kemerdekaan. Perjuangan yang menandakan persenyawaan yang kuat antara Islam dan Nasionalisme dalam sejarah Indonesia modern. Sepenggal sejarah penting dari peran masyarakat santri dan ulama dalam sejarah perlawanan rakyat Indonesia melawan penjajahan. Satu penggal sejarah yang membuktikan Islam Indonesia tak bertentangan dengan NKRI atau pun pancasila.

Unsur kebudayaan: unsur instrinsiknya yaitu adat istiadat, budaya, keagamaan, perjuangan, pakaian sedangkan untuk unsur ektrinsiknya yaitu tokoh, latar, alur, suasana, tema, gaya bahasa, sudut pandang, amanat.

Nama: Adhila Rachmasari
Kelas: 1EA37