Kamis, 27 November 2014

Manusia Dan Cinta Kasih

Manusia Dan Cinta Kasih

Kesimpulan dari manusia dan cinta kasih yaitu manusia pada hakikatnya tidak akan dapat dipisahkan dari Cinta Kasih dan Sayang, karena adanya cinta kasih sayang dapat menimbulkan cinta yang ideal dalam tiga unsur keterkaitan, keintiman, dan kemesraan yang harus seimbang satu sama lain. Cinta yang lebih mengandung pengertian tentang pengungkapan kepada orang yang dicintai, serta cinta itu mengandung arti kebahagiaan yang dimana ada kenyataan yang sudah terlanjur terjadi sinkron terhadap perasaan yang tidak bertolakbelakang dengan pertikaian. Dalam menjalani kehidupan di dunia ini, manusia selalu memiliki perasaan cinta kasih dalam berbagai macam aspek kehidupan. Contoh, cinta kepada keluarga, cinta kepada teman, cinta kepada saudara, cinta kepada suatu pekerjaan, cinta kepada alam, dan lain-lain. Tidak ada manusia di dunia ini yang memiliki rasa cinta kasih, kecuali orang yang jiwanya telah menghilang (jiwanya telah mati). Jadi Cinta Kasih dapat diartikan suatu perasaan manusia yang berdasar pada ketertarikan antar makhluk hidup (manusia) dengan didasari pula rasa belas kasih. Yang paling penting dalam memberi adalah hal-hal yang sifatnya manusiawi, bukan material. Yang merupakan ungkapan paling tinggi dari kemampuan”. Cinta dapat berlangsung sesaat, tetapi rasa kasih sayanglah yang akan menuntun dan melanjutkan seseorang untuk mengetahui apa itu arti cinta yang sesungguhnya. Setiap orang memang mempunyai pengertian cinta yang berbeda, tergantung individu itu sendiri yang mengalami suatu kejadian atau pengalaman yang ia alami. Jadi dari kesimpulan setelah dianalisis bahwa cinta dan kasih sangat berperan penting dalam perkembangan seorang anak dan pembentukan kepribadian seseorang.


Nama: Adhila Rachmasari
Kelas: 1EA37
Npm: 10214218

Sabtu, 11 Oktober 2014

TUGAS ILMU BUDAYA DASAR #

MANUSIA SEBAGAI MAHLUK INDIVIDU SOSIAL BESERTA CONTOH DAN KASUS PENYELESAIANNYA

A. Manusia Sebagai Mahluk Individu

Individu berasal dari kata in dan devided. Dalam Bahasa Inggris in salah satunya mengandung pengertian tidak, sedangkan devided artinya terbagi. Jadi individu artinya tidak terbagi, atau satu kesatuan. Dalam bahasa latin individu berasal dari kata individium yang berarti yang tak terbagi, jadi merupakan suatu sebutan yang dapat dipakai untuk menyatakan suatu kesatuan yang paling kecil dan tak terbatas.
Manusia sebagai makhluk individu memiliki unsur jasmani dan rohani, unsur fisik dan psikis, unsur raga dan jiwa. Seseorang dikatakan sebagai manusia individu manakala unsur-unsur tersebut menyatu dalam dirinya. Jika unsur tersebut sudah tidak menyatu lagi maka seseorang tidak disebut sebagai individu. Dalam diri individu ada unsur jasmani dan rohaninya, atau ada unsur fisik dan psikisnya, atau ada unsur raga dan jiwanya.
Dapat dikatakan bahwa terdapat 3 aspek yang melekat sebagai individu yaitu :
1. Aspek organik jasmaniah.
2. Aspek psikis rohaniah
3. Aspek sosial
Setiap manusia memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri, tidak ada manusia yang persis sama. Dari sekian banyak manusia, ternyata masing-masing memiliki keunikan tersendiri. Seorang individu adalah perpaduan antara faktor fenotip dan genotip. Faktor genotip adalah faktor yang dibawa individu sejak lahir, ia merupakan faktor keturunan, dibawa individu sejak lahir. Kalau seseorang individu memiliki ciri fisik atau karakter sifat yang dibawa sejak lahir, ia juga memiliki ciri fisik dan karakter atau sifat yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan (faktor fenotip). Faktor lingkungan (fenotip) ikut berperan dalam pembentukan karakteristik yang khas dari seseorang. Istilah lingkungan merujuk pada lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Ligkungan fisik seperti kondisi alam sekitarnya. Lingkungan sosial, merujuk pada lingkungan di mana orang individu melakukan interaksi sosial. Kita melakukan interaksi sosial dengan anggota keluarga, dengan teman, dan kelompok sosial yang lebih besar.
Karakteristik yang khas dari seeorang dapat kita sebut dengan kepribadian. Setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda-beda yang dipengaruhi oleh faktor bawaan (genotip)dan faktor lingkungan (fenotip) yang saling berinteraksi terus-menerus.

ASPEK KEGIATAN MANUSIA

Prof. Dr. N. Drijarkara berpendapat, bahwa pada hakikatnya manusia sebagai individu mempunyai empat aspek kegiatan dalam penggabungan alam jasmani kepada manusia. Aspek tersebut adalah sebagai berikut:


  1. Aspek Ekonomi. Manusia dengan menurunkan tangannya ke alam jasmani dapat merubah barang-barang sehingga berguna untuk kehidupan umat.
  2. Aspek Kultural. Manusia dengan manifestasinya mendirikan monumen, kuil, candi, menciptakan kesusasteraan, musik, kesenian, dan sebagainya.
  3. Aspek Peradaban. Dimaksudkan sebagai keadaan dan peradaban pada diri manusia dalam tingkah lakunya, seperti cara bergaul, adat istiadat, pakaian yang wajar, dan sebagainya. Bentuk peradaban manausia di luar tingkah lakunya tercermin pada gedung dan bangunan yang dimasukkan unsur keindahan, peralatan yang sempurna, barang konsumsi yang menyenangkan
  4. Aspek Teknik. Manusia dengan kegiatannya mengaktifasi alam jasmani menurut hukum-hukumnya sehingga menimbulkan efisiensi. Permulaan teknik adalah dari badan manusia, semua penggunaan badan mengandung unsur-unsur teknik dalam kehidupan manusia. Jadi tidak terbatas dalam lapangan memenuhi kebutuhan untuk mempertahankan atau memperpanjang kehidupan saja, melainkan termasuk bidang kesenian, permainan, bahasa, mengatur negara, dan sebagainya.
Di samping itu perlu disadari pula secara sungguh-sungguh bahwa setiap manusia itu pada hakikatnya tidak mungkin terlepas dari hidup intern pribadi dan kehidupan ekstern antarpribadi. Hidup intern pribadi tersebut merupakan cerminan bahwa manusia itu sebagai mahluk individu dan sekaligus sebagai mahluk Tuhan, sedangkan kehidupan ekstern antarpribadi merupakan cerminan bahwa manusia itu sebagai mahluk sosial. Hidup intern pribadi artinya bahwa manusia sebagai mahluk sosial itu lebih menitikberatkan kepada hal-hal yang bersifat interaktif antarsesama manusia dari pada individualistis.

KEISTIMEWAAN MANUSIA

Kelahiran manusia di dunia bukan merupakan kehendak manusia, bukan kehendak kedua orang tuanya, bukan pula kehendak dari alam. Melainkan kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Maka dari itu, sebagai konsekuensinya manusia mempunyai kewajiban berbakti serta mengabdi dengan beribadah menurut agama dan kepercayaan masing-masing.
Pada prinsipnya, setiap manusia di samping terdiri dari unsur-unsur jasmani (raga) dan rohani (jiwa) yang lebih sempurna, juga dikaruniai keistimewaan-keistimewaan seperti:
  1. Daya jiwa yang disebut cipta, rasa, dan karsa. Dengan daya ciptanya yang bersifat kreatif, setiap manusia dapat menciptakan sesuatu yang bermanfaat, dengan dorongan rasa dalam dirinya,  manusia dapat mencari dan menikmati sesuatu yang indah. Oleh sebab itu dengan daya ciptanya manusia mampu membentuk berbagai macam manifestasi rasa dan seni, dan dengan karsanya (suatu kehendak kodrat untuk mengabdikan diri pada kekuasaan tertinggi) pula manusia dapat menjadi produktif.
  2. Hak-hak asasi kodrati. Karena manusia memiliki hak asasi kodrati dapat melakukan sesuatu yang sesuai dengan daya cipta, rasa dan karsanya sendiri.
  3. Harkat, martabat, dan derajat yang tinggi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga: harkat adalah kemuliaan, taraf, mutu, nilai atau harga; martabat adalah tingkat harkat kemanusiaan atau harga diri; derajat adalah tingkatan martabat atau pangkat. Dengan harkat atau martabat (derajat), manusia dapat memposisikan dirinya di atas mahluk-mahluk lain.
  4. Keinginan bermasyarakat dan dilengkapi segala potensi sumber kekayaan alam. Melalui keinginannya, setiap manusia dapat berinteraksi dengan warga masyarakat lainnya. Oleh karena itu, setiap manusia memanfaatkan segala potensi kekayaan alam yang disediakan oleh Tuhan.
Setiap manusia memiliki kepribadian yang berbeda. Setiap orang dilahirkan ke dunia ini dengan sifat yang berbeda dengan manusia lain. Setiap pribadi memiliki perbedaan sehingga selalu dapat dibedakan dengan yang lain. Orang yang dilahirkan secara kembar pun pasti memiliki perbedaan.
Manusia dikaruniai hak dasar yang melekat dalam dirinya, yaitu hak asasi manusia. Hak asasi merupakan hak kodrat sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa pada setiap individu tanpa memandang perbedaan yang ada. Hak ini tidak dapat dikurangi atau diminta orang lain sebab jika demikian akan hilang sifat kemanusiaannya, contohnya hak hidup, hak beragama, dan hak milik.
Manusia secara individu adalah bebas. Ia dapat menentukan sendiri apa yang dapat dilakukan dan apa yang tidak dapat dilakukan. Ia dapat mengambil sikap untuk menyesuaikan dengan lingkungan sekitarnya atau pun ia bertindak melawan lingkungannya. Manusia adalah bebas sejauh ia sendiri dapat mengembangkan pikiran tentang tujuan dan sarana untuk mencapai tujuan itu. Ia bebas memutuskan sendiri tindakannya dan pilihan yang ia ambil. Ia juga bertanggung jawab sendiri atas segala sikap dan perbuatannya.
Individu artinya perseorangan atau pribadi yang terpisah dari orang lain. Pandangan yang mengembangkan pemikiran bahwa manusia pada dasarnya adalah individu yang bebas dan merdeka adalah paham individualisme.
Paham ini menekankan pada kekhususan, martabat, hak dan kebebasan orang perorang. Manusia sebagai individu yang bebas dan merdeka tidak terikat apapun dengan masyarakat atau negara. Manusia bisa berkembang dan sejahtera hidupnya apabila secara bebas dapat bekerja dan berbuat apa saja untuk memperbaiki dirinya sendiri. Paham individualisme ini tumbuh di dunia Barat dan dikembangkan oleh beberapa filsuf, di antaranya Jean Jacques Rousseau.
Dasar semangat individualisme adalah manusia itu lahir secara bebas dan merdeka. Ia boleh berbuat apa saja asal jangan mengganggu keamanan orang lain. Semangat individualisme menimbulkan revolusi besar, yaitu Revolusi Perancis 1789 yang bersemboyan liberte, egalite, fraternite (kebebasan, persamaan, persaudaraan). Dasar Revolusi Perancis ini menjadi sumber bagi demokrasi Barat. Jadi demokrasi Barat berdasarkan paham individualisme.
Di bidang politik, individualisme melahirkan ideologi liberal, yang sangat menekankan pentingnya kedudukan individu dan menghargai peranan masing-masing individu. Negara yang terbentuk harus dapat melindungi individu dari berbagai ancaman dan tekanan. Jadi individualisme berkaitan erat dengan liberalisme. Pandangan hidup individualisme lah yang melahirkan ideologi liberal. Keduanya sama-sama berpandangan akan pentingnya kedudukan manusia sebagai mahluk individu.
Di bidang ekonomi, individualisme melahirkan kapitalisme, yaitu sistem perekonomian individualis yang diusahakan oleh pihak swasta atau perseorangan. Tujuannya adalah mencari keuntungan yang setinggi-tingginya sehingga dapat mensejahterakan individu yang bersangkutan. Untuk berjalannya sistem ini, diadakan persaingan bebas antarindividu. Negara atau masyarakat tidak boleh turut campur, tetapi hanya menjaga agar tidak terjadi gangguan keamanan dan ketertiban di masyarakat. Sistem ekonomi yang muncul adalah sistem ekonomi pasar bebas.

KONSEKUENSI MANUSIA SEBAGAI MAHLUK INDIVIDU

Dalam keadaan status manusia sebagai mahluk individu, segala sesuatu yang menyangkut pribadinya sangat ditentukan oleh dirinya sendiri, sedangkan orang lain lebih banyak berfungsi sebagai pendukung. Kesuksesan seseorang misalnya sangat tergantung kepada niat, semangat, dan usahanya yang disertai dengan doa kepada Tuhan secara pribadi. Demikian juga mengenai baik atau buruknya seseorang di hadapan Tuhan dan dihadapan sesama manusia, itu semua sangat dipengaruhi oleh sikap dan perilaku manusia itu sendiri. Jika iman dan takwanya mantap maka dihadapan Tuhan menjadi baik, tetapi jika sebaliknya, maka dihadapan Tuhan menjadi jelek. Jika sikap dan perilaku individunya baik terhadap orang lain, tentu orang lain akan baik pula terhadap orang tersebut.
Konsekuensi (akibat) lainnya, masing-masing individu juga harus mempertanggung jawabkan segala perilakunya secara moral kepada dirinya sendiri dan kepada Tuhan. Jika perilaku individu itu baik dan benar maka akan dinikmati akibatnya, tetapi jika sebaliknya, akan diderita akibatnya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa manusia sebagai individu yang sudah dewasa memiliki konsekuensi tertentu, antara lain:
  1. Merawat diri bersih, rapi, sehat dan kuat
  2. Hidup mandiri
  3. Berkepribadian baik dan luhur
  4. Mempertanggungjawabkan perbuatannya
Supaya konsekuensi tersebut di atas dapat direalisasikan dalam suatu kenyataan, maka masing-masing individu harus senantiasa:
  1. Selalu bersih, rapi, sehat, dan kuat
  2. Berhati nurani yang bersih
  3. Memiliki semangat hidup yang tinggi
  4. Memiliki prinsip hidup yang tangguh
  5. Memiliki cita-cita yang tinggi
  6. Kreatif dan gesit dalam memanfaatkan potensi alam
  7. Berjiwa besar dan penuh optimis
  8. Mengembangkan rasa perikemanusiaan
  9. Selalu berniat baik dalam hati
  10. Menghindari sikap statis, pesimis, pasif, maupun egois

B. Manusia Sebagai Mahluk Sosial

Menurut kodratnya manusia adalah makhluk sosial atau makhluk bermasyarakat, selain itu juga diberikan yang berupa akal pikiran yang berkembang serta dapat dikembangkan. Dalam hubungannya dengan manusia sebagai makhluk sosial, manusia selalu hidup bersama dengan manusia lainnya. Dorongan masyarakat yang dibina sejak lahir akan selalu menampakan dirinya dalam berbagai bentuk, karena itu dengan sendirinya manusia akan selalu bermasyarakat dalam kehidupannya.
Manusia adalah makhluk sosial sehingga memiliki kecenderungan untuk bergaul dan bekerja sama dengan manusia lainnya. Kecenderungan untuk berkelompok dan bekerja sama dengan manusia lain juga didorong oleh naluri untuk memenuhi kebutuhannya baik secara lahiriah maupun batiniah.
Dapat disimpulkan, bahwa manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, karena beberapa alasan, yaitu:
a. Manusia tunduk pada aturan, norma sosial.
b. Perilaku manusia mengharapkan suatu penilaian dari orang lain.
c. Manusia memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain
d. Potensi manusia akan berkembang bila ia hidup di tengah-tengah manusia.

Dalam perkembangannya manusia juga mempunyai kecenderungan sosial untuk meniru dalam arti membentuk diri dengan melihat kehidupan masyarakat yang terdiri dari :
1. penerimaan bentuk-bentuk kebudayaan, dimana manusia menerima bentuk-bentuk pembaharuan yang berasal dari luar sehingga dalam diri manusia terbentuk sebuah pengetahuan.
2. penghematan tenaga, dimana ini adalah merupakan tindakan meniru untuk tidak terlalu menggunakan banyak tenaga dari manusia sehingga kinerja manusia dalam masyarakat bisa berjalan secara efektif dan efisien. 


KONSEKUENSI MANUSIA SEBAGAI MAHLUK SOSIAL

Jika dalam menjalani hidup intern pribadi, setiap manusia sebagai mahluk individu harus melakukan pertanggungjawabannya kepada Tuhan dan kepada dirinya masing-masing dengan memperhatikan norma agama dan norma kesusilaan. Maka dalam menjalani kehidupan ekstern antarpribadi, semua manusia sebagai mahluk sosial harus melakukan pertanggungjawaban kepada orang lain atau warga masyarakat lainnya.
Pertanggungjawaban dalam kehidupan bermasyarakat itu harus berlandaskan pada norma-norma kesopanan (kebiasaan) dan norma-norma hukum. Dengan demikian mereka harus melakukan pertanggungjawaban moral yang berlandaskan norma-norma kesopanan (kebiasaan), dan pertanggungjawaban hukum yang berlandaskan norma-norma hukum.

1.   PERTANGGUNGJAWABAN MORAL

Inti dari status manusia sebagai mahluk sosial terletak pada moralnya, jika manusia itu bermoral maka harkat dan derajatnya semakin tinggi dalam masyarakat. Tetapi jika manusia itu tidak bermoral, maka harkat dan derajatnya rendah, bahkan bisa lebih rendah dari pada hewan manakala terjadi dekadensi moral (kerusakan moral).
Moral dapat diartikan sebagai suatu sikap dan perilaku seseorang yang baik dan benar atau pantas dalam pergaulan bermasyarakat dan berbangsa. Manusia yang bermoral akan memperoleh banyak manfaat, baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain. Tetapi apabila manusia itu tidak bermoral, akan banyak menghadapi berbagai masalah dalam bermasyarakat.
Walaupun dalam hal tidak bermoralnya seseorang itu pada dasarnya tidak merupakan masalah yang berkenaan dengan sanksi hukum, tetapi karena manusia itu tidak dapat terlepas dari masyarakat maka tetap harus ada pertanggungjawaban. Misalnya harus:
-     berahlak mulia
-     berbicara sopan
-     saling bertegur sapa
-     tolong menolong dan bekerja sama
-     saling menghargai dan menghormati
-     mengembangkan solidaritas sosial
-     toleransi dalam berbagai hal
-     turut aktif dalam menyelesaikan masalah sosial

C. Manusia Sebagai Mahluk Individu dan Sosial

Manusia adalah makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Disisi manapun (sebagai makhluk sosial atau individu), ada pengaruh positif dan negatifnya.
a) Manusia dikatakan sebagai makhluk individu karena setiap manusia tercipta dengan kepribadian, keunikan, serta kekurangan dan kelebihan masing-masing sehingga setiap individu manusia berbeda-beda dan memiliki ciri khas masing-masing.
b) Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial karena manusia tidak dapat hidup sendiri dan saling membutuhkan untuk dapat melangsungkan hidupnya.
Kata kunci dari keberhasilan sebagai makhluk sosial adalah memiliki tujuan luhur yang digalang bersama secara disiplin dan mampu menahan diri, apabila terjadi benturan terhadap kepentingan pribadi. Dengan cara itu, diharapkan mereka mampu menjalani hidup ini sebagai makhluk sosial dan individu secara paripurna.
contohnya: – Makhluk Individu, yang dibekali cipta, rasa, dan karsa agar sanggup berdiri sendiri serta bertanggung jawab atas dirinya sehingga disadari / tidak, manusia akan senantiasa berusaha mengembangkan kemampuannya guna memenuhi berbagai kebutuhannya.
– Makhluk Sosial, di mana setiap manusia sebagai zoon politicon ( binatang yang berakal pikir) selalu ingin bergaul dengan manusia yang lain.

Untuk kasus penyelesaiannya yaitu dengan cara harus bersikap terbuka melihat semua perbedaan dalam keragaman yang ada, menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan, dan menjadikan keragaman sebagai kekayaan bangsa, alat pengikat persatuan seluruh masyarakat dalam kebudayaan yang beraneka ragam.
Individualitas manusia tampak pada keinginan untuk selalu tumbuh berkembang sebagai sosok pribadi yang khas atau berbeda dengan lain.
Sedangkan sebagi mahkluk sosial adalah keinginan untuk selalu terlibat bersama orang lain sebagi bagian dalam proses pembentukan jati diri. Di dalam perjumpaan dengan orang lain itulah seorang mengalami perkembangan, sebab dengan perjumpaan akan terjadi “dialog”. Dalam dialog tersebut bisa jadi merupakan bagian pertanggungjawaban pribadi terhadap kehidupan bersama orang lain.
Jadi manusia sebagai mahkluk individu maupun mahkluk sosial merupakan dua sisi dari satu mata uang / tak terpisah.